*Nilai Sebuah Ruh Intiqad*
Oleh: Asep Saeful Azhar
(PC. Pemuda Persis Rancaekek)
_Islam itu adalah sumber dari segala ilmu_
M. Natsir
Sudah 14 abad yang lalu Rasulullah SAW di tengah tandus padang pasir telah menancapkan tihang pancang Islam sebagai agama yang sempurna. Di abad ke-21 ini Islam masih eksis dan akan selalu hadir sebagai agama (dien) segaligus suatu pandangan hidup yang mengurat-mengakar pada nilai-nilai ketauhidan.
Lantas mengapa Islam masih tegak hingga saat ini? ketika kaki kita masih berpijak di bumi, pada setiap tarikan hembusan nafas hilir udara, pada setiap cara pandang binar sorot mata, dan pada setiap geliat fikir serta perasaan yang mendalam memahami zaman. Mari mengoreksi diri sejauh mana kita semua menanam-tumbuhkan kebermaknaan hidup dalam keber-Islam-an sebagai agama yang diridhai oleh Allah SWT.
Hasil kebudayaan yang saat ini kita sama perhatikan, bukanlah suatu kebudayaan yang secara natural mengalir begitu sahaja, maka marilah kita berkaca pada suatu _sirah_ para pujangga Muslimin di abad keemasan.
Mari kita berkenalan kembali dengan salah satu sosok seperti Ibnu Haitam pada abad ke-11 sang penemu teknik fotoghrafi (Opticae Thesaurus) dari Islam.
Ibnu Haitham adalah seorang ahli ilmu _Mar-iyat_ (Opticshe Wetenschap) yaitu suatu ilmu yang berhubungan dengan penembusan dan perjalanan sinar cahaya. Ia berhasil merevolusi ilmu tersebut dan mengkritik para ahli seperti Euclydes dan Ptolemeus yang mempunyai pandangan sebuah teori bahwa barang-barang yang disekeliling terlihat disebabkan mata mengirimkan sinar kepada barang-barang itu. Teori itu di patahkan oleh Ibnu Haitam dengan memutar teori Euclydes dan Ptolemeus, yakni bahwa bukanlah karena sinar yang dikirimkan oleh mata kepada barang-barang yang terlihat itu, tetapi matalah yang menerima sinar dari barang-barang itu yang lantas melalui bagian mata yang dapat dilalui cahaya yaitu lensa mata.
Mungkin pernyataan Ibnu Haitam ini terkesan kuno, tetapi justru di abad modern sekarang ini beraneka rupa jenis fotoghrafi kita jumpai sebagai hasil buah fikirnya. Lalu apa yang mendorong Ibnu Haitam menyatakan kebenaran itu? Ya, dengan Ruh Intiqad-lah sebagai dasar untuk menyiasati dan menyelediki suatu kebenaran yang tertanam pada suatu ajaran kebenaran; agama Islam. Adalah ruh Intiqad yang menyemai segala hasil dan buah para pujangga muslim di abad keemasan itu.
Barat dahulu adalah suatu daratan yang bergelimpangan para pelaku dan perilaku tahayyul dan churafat. Maka ketika mereka melek dan merubah cara pandangnya ke timur, barulah mereka menyadari akan keterpurukannya dalam kehidupan. Mereka lantas bangkit melihat timur sebagai oase di tengah kering kerontaknya nilai suatu akal akan kehidupan. Majulah mereka dalam berbagai bidang.
Ruh Intiqad yakni dengan menggunakan akal untuk menyelidiki segala sesuatu dengan menjauhkan diri dari taklid yang membutakan dalam segala hal. Maka jelas jika Firman Allah SWT dalam Qs. Bani Israil ayat ke 36 _" ... dan janganlah engaku turut saja apa yang engkau tidak mempunyai pengetahuan atasnya, karena sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati itu, semuanya akan ditanya tentang itu!"_
Pada dasarnya tahayyul dan churafat itu ada dan terus saja bermetamorfosa. Jangan sampai parasit-parasit itu menerpa jiwa lantas lupa lalu tenggelam di dasar kejumudan berfikir. Maka hendaklah selaku kaum muslimien berbangga dan menegakkan Islam sebagai agama _rahmatan lil 'alamin_ penyemai rahmat dari suatu rasa, fikir, laku dan usaha dalam hidup yang berfalsafah Islam menuju mardhatillah.
*Linggar, 21 November 2020*
_Suatu resensi catatan Buya Natsir_
Komentar
Posting Komentar