*Rutinitas Pulang*
Oleh : Asep Saeful Azhar
sore lagi
temaram lagi
senja kembali
pulang menjadi rutinitas waktu
lalu hujan turun di antara kerumun;
berjatuhan
membentur aspal
kaca jendela
juga raut muka-muka letih
ia membagi kesegaran baru
dari Cinta kasih-Nya
riuh laju jalan jelang pulang
dalam antrian
kulihat sorot mata-mata itu
segala pandang fokus ke depan jalan
tetapi kubayangkan alam pikiran setiap pejalan, pengendara, juga seorang yang menunggu reda
tentang harapan dan cita hidup
tiba kumandang di menara-menara penyeru
menjadi pandu
sebagai jeda laju
lampu sein kiri berkedip-kedip
tapi masih banyak pula yang menarik lebih kencang gas kemudi
melaju lurus menembus
deras basah yang mulai kuyup
dan dalam benak kata mungkin itu selalu tersirat
_"Hendak kemanakah kita akan pulang?"_
yang kujawab tanya itu sendiri
_"Mungkin, memang. Pulang menjadi rutinitas setiap pribadi, tetapi apa makna setelah pergi?"_
hujan mereda setelah kumandang takbir terakhir
suara khas air keran yang membasuh muka yang menjadikan pribadi siap siaga
jelang pertemuan menghamba pada Sang Khaliq
sebelum masuk ke tempat bersujud itu
kembali nyata ingatanku meruncing
_"Tuhan, akankah kami pulang kembali ke kampung halaman? Tempat awal hidup nenek moyang kami; Adam dan Hawa"_
selangkah menuju-Mu
gemetarlah diri ini
hingga yang jatuh bukan lagi hujan, tetapi air mata.
_"dan Engkau tidak pernah menyalahi Janji"_
*Jelang pulang,*
*Cibiru, Awal Maret 2019*
Oleh : Asep Saeful Azhar
sore lagi
temaram lagi
senja kembali
pulang menjadi rutinitas waktu
lalu hujan turun di antara kerumun;
berjatuhan
membentur aspal
kaca jendela
juga raut muka-muka letih
ia membagi kesegaran baru
dari Cinta kasih-Nya
riuh laju jalan jelang pulang
dalam antrian
kulihat sorot mata-mata itu
segala pandang fokus ke depan jalan
tetapi kubayangkan alam pikiran setiap pejalan, pengendara, juga seorang yang menunggu reda
tentang harapan dan cita hidup
tiba kumandang di menara-menara penyeru
menjadi pandu
sebagai jeda laju
lampu sein kiri berkedip-kedip
tapi masih banyak pula yang menarik lebih kencang gas kemudi
melaju lurus menembus
deras basah yang mulai kuyup
dan dalam benak kata mungkin itu selalu tersirat
_"Hendak kemanakah kita akan pulang?"_
yang kujawab tanya itu sendiri
_"Mungkin, memang. Pulang menjadi rutinitas setiap pribadi, tetapi apa makna setelah pergi?"_
hujan mereda setelah kumandang takbir terakhir
suara khas air keran yang membasuh muka yang menjadikan pribadi siap siaga
jelang pertemuan menghamba pada Sang Khaliq
sebelum masuk ke tempat bersujud itu
kembali nyata ingatanku meruncing
_"Tuhan, akankah kami pulang kembali ke kampung halaman? Tempat awal hidup nenek moyang kami; Adam dan Hawa"_
selangkah menuju-Mu
gemetarlah diri ini
hingga yang jatuh bukan lagi hujan, tetapi air mata.
_"dan Engkau tidak pernah menyalahi Janji"_
*Jelang pulang,*
*Cibiru, Awal Maret 2019*

Komentar
Posting Komentar