BERKENAN MENJADI ASING

ya, mungkin kau lebih tabu dari itu
menjelma angin kemarau yang memukau
lentik, sedetik suara berdetak
lusa apalah tanpanya
menjinakkan daun-daun yang berguguran tersapu seikat lidi
kata ruang sempit bernama Tong
Terhimpit, berdesakkan dengan sisa-sisa taburan kembang api semalam

Kau tak lebih dari itu!
menginginkan untuk menjadi alas, atas rindangnya pohon yang baru saja kau tebang di tepi sungai
udara semakin pengap, dan kau semakin sempit terjerat

oh... air bisikkanlah suara gemercik yang turun dari langit
membasahi setiap imun-imun yang mengelupas karena terkontaminasi

alam adalah bagaimana tanganmu melingkar
mengukur sedepa lebih sejengkal dari pandangan yang mulai buram
terurai, tanah yang basah menjadi susah dan tanah kering menjadi nyaring

meratap sampai di kaki gunung, aku asing
dimana puncak yang akan ku daki?
malah, hanya ruang kosong terpampang jelas tanpa ufuk
suara hutan, kini menjadi suara mesin baja, melindas, memangkal, dan mengeruk habis nyawanya

lalu, dimana nanti anak cucuku berdiam diri, ketika aku telah mati!
maaf dan sekali lagi minta maaf, kau mewariskan berlembar kertas logam dan menyatakan perpisahan embun atas paginya
dan sekali lagi aku harap, jangan kau lenyapkan api dari tungku yang baru saja bersua, beraroma matang, melara dan memelihara sang penghuni karena malam telah usai.



subuh hari di jatinangor, 29-12-2013

Komentar